Memaparkan catatan dengan label agama. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label agama. Papar semua catatan

24 Ogo 2014

Orang yang terakhir keluar dari neraka

Assalammualaikum..
Rasanya dah lama tak kongsikan cerita islamik sebagai penghibur hati atau pun tauladan untuk kita semua,mahupun sebagai pengetahuan bersama..hari ni saya kongsi 1 kisah..
Jom baca..

Abu Hurairah telah menceritakan kepada Atha’ nin Yazid Al-Laitsi bahwa para sahabat telah bertanya kepada Rasululla saw., “Apakah engkau akan melihat Tuhan kami kelak pada hari kiamat?” Maka Rasulullah saw. balik bertanya, “Apakah kamu sekalian merasa kesulitan melihat bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab, “Tidak.” Selanjutnya Rasulullah saw, bertanya lagi, “Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari yang tidak ada awan yang menghalangi?” Mereka menjawab, “Tidak.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda, “Seperti itulah kamu sekalian akan melihat-Nya.” Kemudian Rasulullah saw. meneruskan perkataaannya, “Pada hari kiamat nanti Allah akan mengumpulkan seluruh umat manusia, lalu Allah berfirman kepada mereka, ‘Hendaknya setiap orang mengikuti sesuatu yang disembahnya selama di dunia.’ Oleh karena itu, orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, dan orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Sedangkan orang-orang munafik dari kalangan umat Muhammad tetap berdiri di tempat dan tidak bergerak sama sekali (karena yang disembah oleh mereka tidak jelas).

Kemudian Allah mendatangi kaum muslimin dalam wujud yang tidak dikenali oleh mereka, seraya Allah berfirman kepada mereka, ‘Aku ini adalah Tuhanmu.’ Mendengar itu, mereka berkata, ‘Kami berlindung kepada Allah dari bujuk rayumu, dan kami akan tetap berdiri di tempat ini sampai datang kepada kami Tuhan kami yang sebenarnya.’ Kemudian Allah datang kepada mereka dalam wujud yang mereka kenal, dan Allah berfirman kepada mereka, ‘Aku ini Tuhanmu yang sebenarnya.’ Pada saat mereka mendengarnya dan mereka merasa yakin bahwa itu Tuhannya, maka mereka berkata, ‘Engkaulah Tuhan kami yang sebenarnya.’ Setelah itu mereka mengikuti-Nya.

Kemudian Allah swt. menciptakan sebuah titian yang membentang di atas api neraka, maka aku –Rasulullah saw.—dan umatku menjadi umat yang pertama menyeberangi titian itu. Pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat berbicara selain para rasul, dimana ketika itu para rasul berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah, ya Allah, selamatkanlah.’ Sementara di dalam neraka Jahanam terdapat besi-besi yang melengkung bagaikan lengkungan pancing, seperti duri pohon Sa’dan (nama pohon yang berduri). Kemudian Rasulullah bertanya kepada sahabat yang hadir, ‘Apakah kalian pernah melihat duri pohon Sa’dan?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’

Mendengar hal itu, Rasulullah saw. bersabda, ‘Seperti itulah besi-besi yang melengkung itu, hanya saja besarnya tidak terkirakan, dan hanya Allah yang mengetahui ukurannya. Besi-besi inilah yang kelak akan mengait orang-orang yang sedang meniti titian itu sesuai dengan kadar dosa masing-masing. Dimana orang yang teguh dengan amalnya akan selamat dari kaitannya, sementara orang yang berdosa akan terkait (tersangkut), tetapi akhirnya dilepaskan.
Setelah Allah selesai mengadili hamba-hamba-Nya, dan Dia berkehendak mengeluarkan penghuni neraka dengan rahmat-Nya, maka Allah memberikan perintah kepada para malaikat-Nya untuk mengeluarkan mereka yang patut mendapat rahmat-Nya, yaitu orang yang tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun selama hidup di dunia. Di antara orang yang patut mendapatkan rahmat-Nya adalah orang yang mengatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah. Kemudian para malaikat yang mendapat perintah itu segera mengenali mereka, dan mereka mengenalinya melalui tanda bekas sujud yang ada pada kening mereka karena hanya bekas sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan hangus dibakar api neraka, dimana Allah telah mengharamkan api neraka untuk membakarnya dan menghanguskannya.

Kemudian para malaikat segera mengeluarkan mereka dalam keadaan yang sudah pada hangus, lalu disirankan ke tubuh mereka air kehidupan (air pemulihan). Akibat siraman air kehidupan itulah, akhirnya mereka tumbuh dan pulih kembali seperti sediakala bagaikan tumbuhnya biji-bijian setelah terjadi banjir besar (dimana mereka tumbuh dalam keadaan masih muda dan besar).
Setelah Allah selesai mengadili dan memvonis di antara hamba-hamba-Nya, tiba-tiba terlihat seseorang (yang masih tertinggal) yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah neraka, dan dialah orang yang paling terakhir masuk surga. Kemudian kepada Allah, dia memohon, ‘Wahai Tuhanku, palingkan mukaku dari neraka karena baunya telah meracuniku, dan kobaran apinya telah membakarku.’ Permohonan itu diulanginya berulang kali, dan akhirnya Allah berfirman kepadanya, ‘Seandainya Aku mengabulkan permintaanmu ini, apakah kiranya kamu tidak akan mengajukan permohonan yang lain?’ Maka orang itu menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian dia berjanji dengan sungguh-sungguh kepada Allah bahwa dia tidak akan mengajukan permohonan apapun lagi.

Akhirnya permohonan itu dikabulkan Allah, dimana Allah memalingkan muka orang itu dari neraka. Akantetapi ketika dia dihadapkan ke arah surga dan dia menyaksikan kemegahan yang ada di baliknya, maka dia terdiam dalam beberapa saat, lalu dia memohon kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, sampaikanlah aku ke dalam pintu surga.’ Mendengan hal itu, Allah berfirman kepadanya, ‘Bukankah kamu telah berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa kamu tidak akan memohon lagi kepada-Ku selain permohonanmu yang telah Aku kabulkan tadi? Celakalah kamu, wahai anak Adam, kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan mengabulkan permohonanmu ini.’ Akantetapi dia tetap memohon kepada Allah untuk dikabulkan permohonannya, sehingga Allah berfirman kepadanya, ‘Seandainya permohonanmu ini Aku kabulkan, apakah kamu tidak akan memohon yang lainnya lagi kepada-Ku?’ Orang itu menjawab, ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku tidak akan mengajukan permohonan lagi.’

Kemudian Allah mengabulkan permohonannya itu. Allah membawanya ke depan pintu surga. Setibanya dia di depan pintu surga, Allah membuka pintu surga itu lebar-lebar sehingga orang itu melihat keindahan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Menyaksikan itu, orang itu terdiam beberapa saat, lalu memohon kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, masukanlah aku ke dalam surga.’ Mendengar itu, Allah berfirman kepadanya, ‘Bukankah kamu telah berjanji bahwa kamu tidak akan mengajukan permohonan lagi kepada-Ku setelah permohonanmu yang tadi Aku kabulkan? Celaka kamu, wahai anak Adam, kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.’

Akan tetapi orang itu terus menerus memohon kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, janganlah kiranya hamba-Mu ini menjadi orang yang paling celaka.’ Kemudian ia mengulang-ulang permohonannya, sehingga hal itu menyebabkan Allah tertawa. Allah berfirman kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga.’ Pada saat orang itu masuk ke dalam surga, Allah berfirman kepadanya, ‘Sekarang angankanlah segala keinganmu.’ Kemudian orang itu memohon kepada Allah dengan mengajukan berbagai macam keinginannya dan mencita-citakan berbagai macam kenikmatan, sampai Allah mengingatkannya kepada berbagai menikmatan yang tidak diketahuinya. Lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditamabah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.”
Atha’ bin Yazid berkata, “Ketika Abu Sa’id Al-Kudri mendengarkan Abu Hurairah menuturkan hadits itu, tidak ada bagian dari hadits itu yang dipertanyakannya, selain firman Allah terhadap orang tadi: ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditamabah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’

Abu Sa’id Al-Kudri berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, apakah kenikmatan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Aku tidak mengetahuinya selain aku mendengarnya seperti itu dari Rasulullah saw., dimana beliau bersabda, ‘ kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditamabah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’ Kemudian Abu Sa’id Al-Kudri berkata, “Aku bersumpah bahwa aku telah mendengar dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda, ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan kenikmatan ini akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’” (Hadits shahih, Shahih Muslim nomor 182; Shahih Bukhari nomor 7437)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/04/10/499/orang-yang-terakhir-keluar-dari-neraka/#ixzz3BKA9ZQLQ 



1 Feb 2013

DRAMA SAHARA - APAKAH YANG INGIN CUBA DISAMPAIKAN?

Assalammualaikum ..


Apa yang menimbulkan ketidakpuasan hati kami dimana salah satu adegan dalam video promo drama tersebut di youtube yang memaparkan pelakon wanita yang berniqab (berpurdah) telah bersentuhan dengan pelakon lelaki tersebut .

Saya ada sekali menonton drama ini di Astro Prima dan memang terperasan berkenaan adegan-adegan yang tidak wajar dilakonkan sebagai sebuah drama berkonsepkan Islamik yang ingin menunjukkan tauladan baik kepada penonton.Cuma tidak pernah menonton promonya , tiba semalam 29hb jan 2012 , hari selasa , terbaca di feeds fb ttg promo dan mereka mengatakan tidak puas hati dengan video tersebut.Saya pun play,dan ternyata menimbulkan sakit hati dan marah.Lalu saya mengambil keputusan untuk menegur diwall post astro prima terus,ini kerana saya lihat ramai juga yg menulis diwall tentang perkara2 yg ada mereka tak puas hati.Saya fikir mungkin akan ada juga yg tidak puas hati lagi ttg drama ini,selain dari kami yg berniqab.Alhamdulillah akhirnya ramai yg sudah sedar tentang apa yg terjadi disekeliling kita sekarang, dan semakin ramai yg menulis di wall post astro prima tersebut , dan tidak kurang juga ada saya terbaca 1 blog , mengatakan dia hantar email terus ke pihak astro. Diharap tindakan kita ini diberkati,dan dengan 1 niat iaitu ingin menyedarkan para pelakon selebriti mengambil iktibar dan bhati2 ketika memilih watak lakonan.

p/s : Kontroversi drama Sahara ini dilihat lebih berat kerana menampilkan imej wanita berniqab kemudian dimasukkan pula adegan bersentuhan dengan lelaki bukan mahram. Seorang penonton video promo di youtube menegur cara pemakaian niqab dalam drama tersebut dan juga pergaulan yang diketengahkan dalam drama tersebut yang agak salah.




diharap selepas ini mana2 penerbit dan pelakon yg ingin membawa genre islamik tolong kaji dahulu sedalamnya...




byk lagi komen ttg drama ini , tapi sy hanya letakkn apa yg sy sdiri komen di wall pihak astro tersebut ..




18 Nov 2012

Save Gaza dan semua umat ISLAM yang tertindas (QUNUT NAZILAH)


Assalammualaikum

Entry kali ini saya meminta kepada pembaca blog saya agar sama-sama membantu saudara seIslam kita dengan doa , dan segala jenis usaha yang mampu kita laku kan insyaAllah ...

ingatlah "doa itu senjata untuk orang mukmin"


Panduan Qunut Nazilah

PANDUAN QUNUT NAZILAH

Qunut ertinya membaca doa kerana sesuatu bala bencana supaya kita dilindungi Allah dari bahaya.




4 Feb 2012

30 Jan 2012

Rasullullah SAW manusia teragung,apakah boleh diraikan hari Baginda?

 

MAULID MERAIKAN KELAHIRAN RASULULLAH
SALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM


Apakah dia nas atau pun dalil yang terdapat didalam Al-Quran dan As-sunnah mengenai sambutan Maulid (kelahiran) Rasulullah (s.a.w)? Apakah pendapat para Imam dan Ulama keempat-empat Mazhab? Apa pula pendapat ulama zaman sekarang, yang menggelarkan diri mereka "salafi"? Mereka menghalangnya kerana menganggap sambutan Maulid itu bida'ah antara mereka ialah Albani, Bin Baz, al-Jaza'iri, Mashhur Salman, 'Uthaymin. Bagaimana pula mereka yang berpendapat tidak perlu berdiri setelah selesai membaca rangkaian selawat, darud dan puji-pujian semasa penghujung majlis Maulid - walaupun mereka meraikannya? Ada pula yang menolak untuk mengucap "Assalamu'alaika Ya Rasulullah" (s.a.w) dan tanggapan mereka bahawa kita tidak boleh menyeru Rasulullah dengan perkataan "Ya" ataupun "Oh" ?



  1. PRAKATA
  2. Dalil daripada Al-Quran dan As-sunnah yang mengatakan bahawa menyambut Maulidurrasul (s.a.w) adalah dibenarkan oleh Shari'a
    1. Kewajiban untuk Meningkatkan Kecintaan dan Memuliakan Rasulullah (s.a.w)
    2. Rasulullah (s.a.w) mengatakan bahawa hari Isnin merupakan Hari Lahir baginda
    3. Firman Allah, "Bergembiralah dengan kehadiran Rasulullah (s.a.w)"
    4. Rasulullah (s.a.w) meraikan hari-hari yang besar yang bersejarah
    5. Firman Allah,"Berselawatlah pada Rasulullah (s.a.w)"
    6. Kesan mengingati dan meraikan Maulidurrasul pada orang kafir
    7. Kewajiban mempelajari dan mengetahui sirah dan mencontohi asas-asas akhlaq yang baik
    8. Rasulullah (s.a.w) menerima sajak/syair yang berkaitan dengan dirinya
    9. Menyanyi dan membaca syair/sajak
    10. Menyanyi dan membaca Quran
    11. Rasulullah (s.a.w) membenarkan permainan gendang untuk niat yang baik
    12. Rasulullah (s.a.w) mengingatkan mengenai tarikh kelahiran Nabi-nabi yang lain
    13. Kenapa Bukhari menekankan kelebihan meninggal hari
    14. Isnin Rasulullah (s.a.w) sentiasa menekankan dan mengingati tempat-tempat kelahiran Para Nabi
    15. Ijma' ulama membenarkan sambutan Maulidurrasul (s.a.w)
  3. Sejarah sambutan Maulidurrasul (s.a.w)
  4. Keterangan mengenai sambutan Maulidurraul (s.a.w) secara beramai-ramai yang terawal
  5. Penulisan Ibnu Battuta mengenai Maulidurrasul (s.a.w)
  6. Tiga rakaman mengenai sambutan Maulidurrasul (s.a.w) pada abad ke 10 hijrah
  7. Sambutan Maulidurrasul (s.a.w) di negara-negara Islam pada zaman sekarang
  8. CELEBRATION OF MAWLID AS UNDERSTOOD BY THE SCHOLARS
    1. Ibn Taymiyya's Opinion on the Celebration of Mawlid and the Deviation of "Salafis" from his Opinion
    2. Pendapat Ibnu Taimiyyah Mengenai Majlis Dzikir
    3. Ibnu Kathir Memuji-muji Malam Maulidurrasul (s.a.w)
    4. Fatwa 'Asqalani dan Suyuti Mengenai Sambutan Maulidurrasul

6. SAMBUTAN MAULID SEBAGAIMANA YANG DI FAHAMI OLEH PARA ULAMA

  1. Pendapat Ibn Taimiyyah mengenai sambutan Maulidurrasul dan perbezaannya dengan tanggapan gerakan "salafi"
  2. Pendapat Ibnu Taimiyyah mengenai majlis-majlis dzikir
  3. Ibnu Kathir memuji-muji malam Maulidurrasul (s.a.w)
  4. Fatwa Imam Asqalani dan As-suyuti membenarkan sambutan Maulidurrasul (s.a.w)
  5. Pendapat ulama-ulama lain tentang Maulid
  6. Sambutan Maulid adalah digalakkan (mandub)

9. "SALAFI" MELARANG SAMBUTAN MAULID MENGHADIAHKAN

10. DARUD ATAUPUN SELAWAT MENGGUNAKAN

11. KATA-KATA "ASSALAMU 'ALAIKA YA RASULULLAH"

12. Wahhabi merosakkan MUWAJAHA AL-SHARIFA (GERBANG MAQAM RASULULLAH s.a.w)

13. PENUTUP: SESEORANG TIDAK SEPATUTNYA MELARANG SAMBUTAN MAULIDURRASUL

PRAKATA


Segala puji dan puji hanya buat Allah, Tuhan seluruh alamraya dan selawat serta salam buat Nabi dan RasulNya Muhammad dan kaum keluarganya dan para sahabat. Didalam agama Islam terdapat dua perayaan besar yang disebut sebagai hari Raya ataupu 'Id iaitu, 'Idil-adha dan 'Idil-fitri. Perayaan lain yang terdapat didalam agama Islam, seperti Maulidurrasul bukan merupakan satu kewajiban tetapi ia tidaklah pula dilarang untuk menyambutnya. Pada zaman ini terdapat banyak suara-suara yang mempertikaikan tentang sambutan Maulidurrasul dan ia menjadi fokus perdebatan dan perbalahan, walaupun sebenarnya, banyak lagi isu penting yang perlu ditangani oleh umat Islam. Zaman ini merupakan zaman dimana musuh-musuh Islam sedang melakukan operasi besar-besaran untuk menghancurkan ummat Muhammad, daripada dalam mahupun daripada luar tanpa perasaan belas kasihan dan amat sedikit sekali bilangan orang-orang yang beriman yang dapat mempertahankan ummah ini daripada serangan-serangan ini. Zaman ini merupakan zaman jahiliyyah Ummat Islam, sehinggakan kebenaran amat jarang sekali dan kebatilan merupakan perkara yang biasa dan diterima umum. Firman Allah kepada orang-orang yang beriman,"Berpeganglah kamu pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai" (Ali-Imran: 103). Pada zaman ini serangan musuh bukanlah satu-satunya penyebab penderitaan ummat Islam. Dikalangan kita sendiri - ummat Islam - ada musuh dalam Islam, tidak perlulah kita sebut siapa mereka kerana ianya telah pun diketahui umum. Musuh dalam selimut ini, tidak pula suka untuk menyerang musuh-musuh Islam yang sebenar tetapi sebaliknya, mereka menyebarkan pula permusuhan dan perpecahan dikalangan ummat Islam diseluruh dunia. Oleh itu saya rasa ini merupakan tanggungjawab saya untuk melindungi mereka yang beriman daripada serangan mereka ini, yang tidak ada kerja lain, selain mencari kesalahan saudara sendiri. Mereka berkerja bertungkus lumus untuk menaikkan rasa syak wasangka dan was-was kepada perkara-perkara yang sahaja mereka timbulkan agar ianya menjadi satu yang kontroversi dan seterusnya, menuduh saudara sendiri sebagai musyrik, kafir, dan mubtadi'. Mereka pula dengan senang-senangnya merubah pendapat-pendapat ulama-ulama yang terdahulu, yang selama 1400 tahun dianggap sahih dan benar oleh semua ummat Islam dan menamainya sebagai bid'a, syirik dan kufur!

Membesarkan Maulidurrasul samalah seperti kita membesarkan Islam kerana Rasulullah (s.a.w) umpama simbol bagi agama Islam. Imam Mutawalli Sha'rawi telah menuli didalam kitab beliau, Ma'idat al-Fikr al-Islamiyya (ms. 295),"Jika setiap kejadian yang tidak bernyawa sekalipun, bergembira dengan kelahiran baginda (s.a.w) dan semua tumbuh-tumbuhan pun bergembira malahan semua binatang pun bergembira dan semua malaikat pun bergembira dan semua jinn Islam bergembira diatas kelahiran baginda (s.a.w), kenapa kamu menghalang kami daripada bergembira dengan kelahiran baginda (s.a.w)?"

Oleh itu, untuk melindungi orang-orang awam Muslim dan Mukmin daripada tuduhan-tuduhan yang tidak boleh diterima, terutama sekali di Amerika dan Kanada, yang tidak mempunyai ramai ulama' yang boleh menjawab orang-orang yang jahil ini adalah penting untuk mengetahui mengenai kedudukan keadaan yang sebenarnya. Sebenarnya kedudukan perkara ini melibatka persoalan khilaf (perbezaan pendapat para ulama') sahaja dan tiada siapa yang merubah pendapat para ulama' yang muktabar kecuali orang-orang yang jahil dan para pembuat bida'ah. Insyaallah, saya akan memberi fakta dan nas serta dalil yang berkaitan dengan Maulidurrasul yang berlandaskan Al-Quran dan As-sunnah serta ijma' para ulama, agar dengan niat ini, semoga ianya menjadi jawaban kepada kritikan-kritikan dan persoalan-persoalan para "ulama" yang jahil yang berpura-pura mahir dalam agama dan semoga ilmu ini dapat dikongsi bersama - ilmu yang Allah beri kepada ulama' yang benar dan semoga Allah merahmati para ulama' yang benar ini. Sebelum pergi dengan lebih mendalam lagi ingin saya kemukakan 3 kenyataan:

1. Kami mengatakan bahawa menyambut Maulidurrasul (s.a.w) adalah dibolehkan. Perkumpulan yang dilakukan untuk memperdengarkan Sirah (kisah hidup) dan 'Madh' (puji-pujian) buat Rasulullah (s.a.w) adalah juga dibenarkan, begitu juga dengan kebiasaan menjamu tetamu dan menggembirakan saudara seUmmah adalah dibenarkan dan digalakkan.

2. Meraikan Maulidurasul (s.a.w) bukan sahaja terhad pada 12 hb. Rabi'ul al-Awwal tetapi ianya patut dilakukan pada setiap hari dalam setiap bulan di setiap masjid agar orang ramai dapat merasakan cahaya Islam dan Shari'a didalam hati-hati mereka.

3. Majlis sambutan Maulidurrasul (s.a.w) merupakan peluang keemasan yang berkesan dan efisyen untuk menyebarkan Islam dan mendidik anak-anak kita, yang tidak patut diabaikan oleh para ulama dan da'I, untuk mengajar dan mengingatkan Ummah mengenai Rasulullah (s.a.w) dan akhlaq baginda yang mulia, cara baginda beribadah dan cara baginda baergaul dengan orang ramai. Cara ini boleh memupukkan perasaan cinta dan sayang serta sentiasa mengingati Rasul (s.a.w) pada hati kanak-kanak. Pemberian makanan serta minuman dan hadiah juga akan membuatkan mereka merasa gembira menyambut hari tersebut.

Dalil daripada Al-Quran dan Sunnah yang Mengatakan bahawa Menyambut Hari Kelahiran (s.a.w) adalah diterima oleh Shari'a.


Kewajiban untuk Meningkatkan Kecintaan dan Penghormatan buat Rasulullah (s.a.w). Allah telah berfirman kepada Rasulullah (s.a.w) untuk mengingatkan ummatnya yang mengakui mencintai Allah, untuk mencintai NabiNya dan katakanlah kepada mereka,"Jika kamu mencintai Allah, ikutlah (dan cintai dan hormati) aku, dan Allah akan mencintai kamu" (3:31)



2-1 Kewajiban untuk Meningkatkan Kecintaan dan Penghormatan buat Rasulullah (s.a.w).


Allah telah berfirman kepada Rasulullah (s.a.w) untuk mengingatkan ummatnya yang mengakui mencintai Allah, untuk mencintai NabiNya dan katakanlah kepada mereka,"Jika kamu mencintai Allah, ikutlah (dan cintai dan hormati) aku, dan Allah akan mencintai kamu" (3:31) Sambutan Maulidurrasul (s.a.w) merupakan natijah atau kesan akan adanya perasaan kecintaan terhadap Rasulullah (s.a.w), perasaan taat kepada baginda, sentiasa mengingati baginda, mencontohi baginda dan berbangga dengan baginda sebagaimana Allah bangga terhadap baginda kerana Allah memuji akan baginda didalam Al-Quran, "Sesungguhnya engkau mempunyai akhlaq yang mulia" (al-Qalam:4) Tahap kecintaan kepada Rasulullah (s.a.w), merupakan antara pengukur kepada tahap kesempurnaan keimanan antara seseorang mukmin dan seorang mukmin yang lain. Dalam sebuah hadith sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah (s.a.w) telah bersabda,"Tidak sempurna iman kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada anak, ibu bapa dan manusia seluruhnya." Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh Bukhari Rasulullah (s.a.w) berfirman,"Tidak sempurna iman kamu sehingga aku kamu lebih cintai daripada diri kamu sendiri." Dan Sayyidina 'Umar berkata,"Ya Rasulullah aku mencintaimu lebih daripada diriku sendiri. Kesempurnaan iman seseorang itu amat bergantung pada kecintaannya terhadap Rasulullah (s.a.w) dan para Malaikat sentiasa memuji baginda sebagaimana yang dimaksudkan didalam ayat al-Quran yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat sentiasa bersalawat keatas Nabi" (33:56). Seterusnya ayat ini disambung dengan perintah Tuhan,"Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu keatasnya". Ayat ini sahaja menjadi bukti bahawa kualiti iman seseorang itu bergantung kepada dan dizahirkan melalui selawat kepada Nabi (s.a.w). Ya Allah! Limpahkanlah selawat serta salam kepada Nabi, ahli keluarga baginda dan para sahabat.

2-2 Rasulullah (s.a.w) menekankan bahawa hari Isnin sebagai hari Kelahiran Baginda


Abu Qatada al-Ansari meriwayatkan didalam Sahih Muslim, kitab as-siyam (puasa), bahawa Rasulullah (s.a.w) kenapa beliau berpuasa pada hari Isnin, dan baginda bersabda,"Itulah hari aku dilahirkan dan itulah juga hari aku diangkat menjadi Rasul." Daripada Mutawalli Sha'rawi:"Banyak peristiwa yang ajaib telah berlaku pada hari baginda (s.a.w) dilahirkan sebagai bukti bagi hadith dan sejarah bahawa malam Rasulullah (s.a.w) dilahirkan tidak seperti malam-malam manusia lain dilahirkan". Peristiwa yang termaktub didalam hadith termasuklah gegaran yang dirasakan di istana 'Chosroes' dan padamnya api yang telah menyala selama 1000 tahun di Parsi dan beberapa peristiwa-peristiwa lain yang ditulis didalam karangan Ibnu Kathir, al-Bidaya, Jilid 2, mukasurat 265-268. Daripada Kitab al-Madhkal oleh Ibnu al-Hajj (jilid 1, ms. 261) "Menjadi satu kewajiban bagi kita untuk membanyakkan kesyukuran kita kepada Allah setiap hari Isnin bulan Rabi'ul Awwal kerana Dia telah mengurniakan kepada kita nikmat yang besar iaitu diutusNya Nabi (s.a.w) untuk menyampaikan Islam kepada kita dan menyebarkan salam. Apabila baginda ditanya mengapa baginda berpuasa pada hari Isnin, baginda bersabda,"Hari itu adalah hari kelahiranku". Oleh kerana itu, hari tersebut telah memberi satu 'penghormatan' kepada bulan tersebut, kerana hari itu merupakan hari Rasulullah (s.a.w) dan baginda bersabda,"Aku merupakan penghulu bagi anak cucu Adam dan aku tidak mengatakan ini kerana kesombongan …dan baginda bersabda: Adam dan anak cucunya akan bernaung dibawah panji-panjiku pada hari pembalasan kelak. Hadith-hadith ini merupakan riwayat 'Shaikhayn' Bukhari dan Muslim. Dan Muslim menulis didalam Sahih nya, Rasulullah (s.a.w) bersabda, Aku telah dilahirkan pada hari Isnin dan pada hari yang sama juga wahyu yang pertama telah diturunkan kepadaku." Rasulullah (s.a.w) mengutamakan hari kelahiran baginda dan memuji serta bersyukur kepada Allah, dengan berpuasa pada hari tersebut (Isnin) seperti yang diriwayatkan oleh Abu Qatada didalam sebuah hadith. Ini bermakna, Rasulullah (s.a.w) telah melahirkan dan menzahirkan perasaan gembira baginda dengan berpuasa pada hari tersebut - salah satu daripada bentuk ibadah khusus. Oleh kerana Rasulullah (s.a.w) sendiri mengutamakan hari tersebut, jadi sebagai mencontohi baginda, sambutan atau ibadah yang selaras dengan shari'ah adalah dibolehkan - walaupun mungkin kaedah menyambutnya mungkin boleh berubah mengikut keadaan dan tempat tetapi dzat/intipati sambutan itu tetap sama. Dan kerana itu, berpuasa, memberi makanan kepada orang fakir miskin, bersama-sama berselawat kepada Nabi (s.a.w), ataupun bersama-sama mengingati dan merenung akan akhlaq baginda yang terpuji lagi mulia - semuanya merupakan kaedah ataupun cara yang boleh dilakukan untuk mengutamakan dan menyambut hari tersebut. (Sila lihat hadith," Meninggal pada hari Isnin" dibawah)



2-3 Firman Allah: Bergembiralah dengan Nabi (s.a.w)


KETIGA: Untuk menyatakan kegembiraan kita untuk baginda Rasulullah (s.a.w) kerana Allah telah mengutuskan baginda kepada kita seperti firman Allah didalam al-Quran, " diatas nikmat dan rahmat daripada Allah, biarlah mereka bergembira" (Yunus:58).

Perintah ini datang kerana kegembiraan menjadikan hati rasa bersyukur diatas rahmat Allah. Rahmat apakah lagi yang lebih besar selain Rasulullah (s.a.w) sendiri, dan Allah berfirman,' Kami tidak menurunkan kamu melainkan sebagai rahmat kepada seluruh manusia.' (Al-Anbiya':107)

Kerana Rasulullah (s.a.w) diutus sebagai rahmat untuk semua manusia, kegembiraan menyambut kelahiran baginda tidak tertakluk pada yang Muslim sahaja, bahkan seluruh manusia, sepatutnya melahirkan rasa kegembiraan tersebut. Malangnya, pada masa sekarang ramai Muslim yang beriya-iya menentang perintah Allah untuk bergembira dan menyambut hari NabiNYA.

2-4 Nabi (s.a.w) menyambut Hari-hari Bersejarah


KEEMPAT: Nabi (s.a.w), biasanya menghubungkaitkan ibadah dan sejarah dan kebiasaannya apabila tiba hari yang bersejarah tersebut, baginda mengingatkan kepada para sahabat akan hari tersebut dan supaya mereka menyambutnya walaupun peristiwa itu telah berlaku beribu-ribu tahun yang lampau. Dalil mengenai perkara ini dapat dilihat didalam hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dan perawi-perawi yang lain ini, "Apabila Rasulullah (s.a.w) tiba di Madinah beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari 'Ashura. Baginda pun bertanya kepada mereka mengenai hari tersebut dan mereka pun berkata, pada hari tersebut, Allah telah mnyelamatkan Nabi mereka, Sayyidina Musa dan menenggelamkan musuhnya dan kerana peristiwa itu mereka berpuasa sebagai tanda kesyukuran kepada Allah diatas anugerah tersebut." Rasulullah setelah itu terus bersabda yang mana hadith ini merupakan hadith yang cukup terkenal," Kami lebih berhak keatas Musa daripada kamu," dan baginda berpuasa pada hari tersebut ('Ashura) dan hari sebelumnya.


2-5 Allah Berfiman," Berselawatlah Kamu Kepada Nabi"


KELIMA: Memperingati kelahiran Rasulullah (s.a.w) akan membuatkan hati kita tergerak untuk berselawat keatas Nabi (s.a.w) dan memuji baginda yang merupakan satu perkara yang diarahkan oleh Allah di dalam ayat,

"Sesungguhnya Allah dan para Malaikat berselawat keatas Nabi, wahai orang-orang yang beriman ! berselawatlah kamu dan berilah salam keatasnya" (Al-Ahzab:56). Berkumpul beramai-ramai dan mengingati Nabi (s.a.w) akan membuat kita mudah untuk mendoakan baginda serta berselawat dan memuji-muji baginda. Siapakah yang berhak untuk menghalang apa yang telah Allah perintahkan di dalam Al-Quran? Pahala dan manfaat serta cahaya yang Allah berikan kepada hati kita kerana mematuhi perintahnya, tidak dapat diukur. Suruhan itu pula dinyatakan dalam keadaan jamak (ramai - 'plural') didalam kaedah nahu bahasa Arab (sila rujuk ayat al-Quran) : Allah dan MalaikatNya berselawat dan memuji Nabi - didalam satu perkumpulan yang ramai. Adalah tidak benar sama sekali untuk menyatakan bahawa selawat keatas Nabi (s.a.w) hanya boleh/perlu dilakukan secara bersendirian.



2-6 Kesan Memperingati Maulid untuk Orang Kafir


KEENAM: Apabila seseorang yang tidak beriman, bersama-sama menyatakan kegembiraan dan menyambut Maulidurrasul (s.a.w), atas rahmat dan kemurahan Allah, orang itu akan dapat manfaatnya. Perkara ini ada dinyatakan didalam sahih Bukhari. Bukhari meriwayatkan bahawa setiap Isnin, Abu Lahab akan dihentikan siksaan kubur yang diterimanya kerana beliau telah membebaskan hambanya, Thuwayba yang telah mengkhabarkannya kelahiran anak saudaranya, Nabi Muhammad (s.a.w).

Hadith ini terkandung didalam kitab Nikah oleh Bukhari dan Ibnu Kathir pula membicarakannya didalam kitab-kitabnya Sirat al-Nabi Jilid 1: ms 124, Mawlid al-Nabi ms 21 dan al-Bidaya ms.272-273. Seorang hafiz (hafal al-Quran), Shamsuddin Muhammad ibn Nasiruddin ad-Dimashqi telah menulis didalam kitabnya Mawrid as-sadi fi Mawlid al-Hadi : "Jika seorang kafir yang memang dijanjikan tempatnya di neraka dan kekal didalamnya" "hancur tangan-tangannya"; (surat 111) diizinkan untuk direhatkan daripada siksa kubur setiap hari Isnin kerana bergembira dengan kelahiran Ahmad, inikan pula hamba yang seluruh hidupnya bergembira dan bersyukur dengan kehadiran Ahmad dan meninggal dengan menyebut "Ahad"? - [tentu lebih lagi ganjarannya - penterjemah]



2-7 Kewajiban Mengetahui Sirah dan Mencontohi Asas-asas Akhlaq Yang Baik


KETUJUH: Kita disuruh untuk mengenali Nabi kita, tahu akan kehidupan baginda, mengenai mukjizat baginda, kelahirannya , akhlaqnya, keimanan baginda, tanda-tanda kenabian beliau (ayat wa dala'il), khalwat yang baginda lalui, ibadah baginda lagipun bukankah perkara-perkara ini sepatutnya diketahui oleh setiap Muslim? Apakah cara yang lebih baik lagi selain daripada meraikan hari kelahiran baginda, iaitu hari permulaan kehidupan baginda, dan seterunya supaya kita terdorong untuk mengenali baginda dengan lebih mendalam lagi. Memperingati hari kelahiran baginda akan membuka ruang bagi kita untuk memperingati perkara-perkara lain yang berkaitan dengan baginda. Apabila ini kita lakukan, Allah akan redha pada kita, kerana kita akan lebih bersedia untuk mengetahui sirah baginda dan lebih bersedia untuk mencontohi dan mengamalkan akhlaq baginda dan memperbetulkan kesilapan kita. Itulah sebabnya, kenapa sambutan hari lahir baginda merupakan satu rahmat buat kita semua.



2-8 Nabi Menerima Syair/Sajak Yang Berkaitan dengan Diri Baginda


KELAPAN: Pada zaman Nabi (s.a.w), terdapat ramai penyair yang terkenal dan hebat datang kepada baginda dan mempersembahkan kepada baginda rangkap-rangkap syair mereka yang memuji baginda, menceritakan mengenai dakwah dan peperangan yang baginda pimpin dan juga syair mengenai para sahabat. Ini dibuktikan dengan banyaknya syair yang disertakan di dalam Sirah Ibnu Hisham, al-Waqidi dan lain-lain. Rasulullah (s.a.w) amat menyenangi syair yang indah seperti yang tercatat didalam hadith riwayat Bukhari didalam al-Adab al-mufrad dan kitab-kitab lain, Rasulullah (s.a.w) bersabda,"Terdapat hikmah di dalam syair"; dan kerana itu bapa saudara Nabi (s.a.w) al-'Abbas mengarang syair memuji kelahiran Nabi (s.a.w) seperti didalam rangkap berikut:

Dikala dikau dilahirkan , bumi bersinar terang Hinggakan nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahaya mu Dan kami dapat terus melangkah Lantaran kerana sinar dan cahaya dan jalan yang terpimpin [ bahasa mungkin tidak menepati kehendak penulis asal - penterjemah]

Petikan ini tercatat didalam kitab Imam as-Suyuti, Husn al - Maqsid ms.5 dan didalam kitab Ibnu Kathir, Maulid ms.30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari.

Ibnu Kathir menerangkan didalam kitabnya bahawa para Sahabat ada meriwayatkan bahawa Nabi (s.a.w) memuji nama baginda dan membaca syair mengenai diri baginda semasa peperangan Hunayn untuk membakar semangat para Sahabat dan menakutkan para musuh. Pada hari itu baginda berkata,"Aku adalah Rasulullah! Ini bukanlah dusta. Aku anak 'Abd al - Muttalib!"

Rasulullah (s.a.w) sebenarnya amat bergembira dan menyenangi mereka yang memuji baginda kerana ianya merupakan perintah Allah dan baginda memberi kepada mereka apa yang Allah anugerahkan kepada baginda. Apabila kita bersama-sama berkumpul untuk mendekati Nabi (s.a.w), kita sebenarnya juga, melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri kita kepada Allah justeru kerana mendekati Nabi (s.a.w) akan membuatkan Allah redha kepada kita.



2-9 Menyanyi dan Membaca Syair


Telah diketahui, menurut riwayat 'A'isha bahawa Nabi (s.a.w), telah membenarkan beliau untuk mengundang dua orang perempuan untuk menyanyi pada hari Raya. Baginda memberitahu Abu Bakr,"Biarkan mereka menyanyi kerana untuk setiap ummat ada hari cutinya dan ini adalah hari cuti kita" [Muttafaqun 'alaih]. Didalam kitab Madarij al-salikin, Ibnu Qayyim menulis bahawa Nabi (s.a.w) memberi izin untuk menyanyi pada hari perkahwinan dan membenarkan syair dipersembahkan untuk baginda. Baginda mendengar Anas dan para Sahabat memuji baginda dan membaca syair ketika baginda sedang menggali parit semasa peperangan Khandaq dan mereka pernah berkata," Kamilah yang telah memberi bai'ah kepada Muhammad untuk berjihad selama kami hidup."

Ibnu Qayyim juga telah menceritakan mengenai 'Abdullah ibnu Rawaha telah membaca syair yang panjang memuji-muji Nabi Muhammad (s.a.w) semasa baginda menakluki dan memasuki Makkah, dan Nabi pun berdoa untuk beliau. Rasulullah (s.a.w) juga pernah mendoakan untuk Hassan ibnu Thabit agar Allah sentiasa memberi bantuan kepada beliau dengan ruh suci (the holy spirit) selama mana beliau memuji-muji baginda melalui syairnya. Nabi juga telah menghadiahkan Ka'b ibnu Zuhayr sepasang jubah apabila beliau membacakan syair memuji-muji baginda kepada baginda. Nabi juga pernah meminta Aswad bin Sarih untuk mengarang syair memuji-muji Allah dan baginda pula pernah meminta seseorang untuk membaca syair puji-pujian yang mengandungi 100 rangkap yang dikarang oleh Umayya ibnu Abi Halh. Menurut Ibnu Qayyim lagi, 'A'isha selalu membaca syair memuji baginda (s.a.w) dan beliau amat menyenanginya."

Tertera di batu nisan Hassan ibnu Thabit beliau menulis mengenai Nabi (s.a.w):

Bagiku tiada siapa dapat mencari kesalahan didalam diriku Aku hanya seorang yang telah hilang segala deria rasa Aku tidak akan berhenti daripada memuji nya Kerana hanya dengan itu mungkin aku akan kekal didalam syurga Bersama-sama 'Yang Terpilih' yang daripadanya aku mengharapkan syafaat Dan untuk hari itu, aku kerahkan seluruh tenagaku kearah itu.


2-10 Menyanyi dan Membaca al-Quran


Seperti yang ditulis oleh Ibnu Qayyim didalam kitabnya, " Allah memberi keizinan kepada Nabi (s.a.w) agar membaca al-Quran dengan berlagu . Pada suatu hari Abu Musa al-Ash'ari sedang membaca al-Quran dengan berlagu dan suara yang merdu dan ketika itu Nabi (s.a.w) sedang mendengar bacaan beliau . Setelah beliau selesai mengaji, Nabi (s.a.w) mengucapkan tahniah kepada beliau kerana bacaan beliau yang begitu merdu dan baginda bersabda," Engkau mempunyai suara yang merdu " Dan baginda (s.a.w) bersabda lagi bahawa Abu Musa al-Ash'ari telah dikurniakan Allah 'Mizmar' (seruling) diantara mizmar-mizmar Nabi Daud. Dan Abu Musa pun berkata,"Ya Rasulullah jika aku tahu yang engkau sedang mendengarkan bacaanku nescaya aku akan membaca dengan suara yanglebih merdu dan lagu yang lebih enak lagi yang engkau belum pernah dengar lagi."

Ibnu Qayyim menulis lagi,"Nabi (s.a.w) bersabda ," Hiasilah al-Quran dengan suara kamu," dan "Siapa-siapa yang tidak melagukan al-Quran bukanlah dari kalangan kami." Ibnu Qayyim pula memberikan komentar, "Untuk menyenangi suara yang merdu adalah dibenarkan seperti juga kita menyenangi pemandangan yang indah, gunung-ganang, alam semulajadi ataupun harum-haruman dan wangi-wangian ataupun hidangan yang lazat selama mana ianya tidak melanggar batas-batas shari'a. Jika mendengar suara yang merdu itu haram, maka haram jugalah perkara-perkara yang telah disebutkan tadi.

2-11 Nabi Membenarkan Permainan Gendang Yang disertai Niat Yang Baik


Seorang Muhaddith, Ibnu 'Abbad telah memberikan fatwa berikut didalam kitabnya 'Letters'. Beliau memulakan dengan sebuah hadith," Seorang wanita telah datang menemui Nabi dikala baginda baru pulan daripada medan peperangan, dan wanita itu pun berkata," Ya Rasulullah , aku telah bernazar jika sekiranya, Allah menghantar engkau kembali dalam keadaan selamat, aku akan bermain gendan disebelah mu." Nabi pun bersabda," Tunaikanlah nazar mu." Hadith ini terdapat didalam riwayat Abu Dawud, Tirmidhi dan Imam Ahmad.

Ibnu 'Abbas pula menulis, " Tidak dinafikan bahawa memain gendang merupakan salah satu cara hiburan walaupun Nabi membenarkannya untuk memenuhi nazarnya. Ini adalah kerana baginda niat wanita itu adalah untuk meraikan kepulangan baginda dan beliau mempunyai niat yang baik bukannya dengan niat untuk melakukan sesuatu yang tidak baik ataupun menyia-nyiakan waktu. Oleh itu, jika kita meraikan hari kelahiran Nabi dengan niat yang baik, dengan membaca sirah dan memuji baginda, ianya diterma dan dibenarkan.

2-12 Nabi (s.a.w) Meraikan Hari lahir Nabi-nabi Yang lain [The Prophet Emphasized the Birthday of Prophets]

KESEMBILAN: Nabi (s.a.w) telah bersabda didalam hadith mengenai hari dan dan tempat kelahiran Nabi-nabi yang terdahulu. Baginda (s.a.w) juga membesarkan hari Jumaat kerana pada hari itu menurut baginda," Hari itu merupakan hari Allah mencipta Nabi Adam (a.s)." Ini bermakna, hari Jumaat dimuliakan kerana ianya merupakan hari dimana Allah mencipta Adam dan hari itu juga dibesarkan kerana ia merupakan hari penciptaan Nabi dan Bapa kepada seluruh Ummat Manusia. Bagaimana pula dengan hari kelahiran Nabi Besar dan Insan Kamil (sempurna) yang diciptakan?Nabi bersabda,"Sesungguhnya Allah menjadi aku sebagai Penutup (Khatam) Semua Nabi-nabi dan Rasul tatkala Adam masih lagi merupakan sesuatu antara tanah dan air." Hadith ini adalah riwayat Ahmad dalam Musnad, Bayhaqi dalam Dala'il al-Nubuwwah dan kitab-kitab besar yang lain dan ianya merupakan hadith yang hasan lagi sahih.

2-13 Mengapa Bukhari Mengutamakan Meninggal Pada Hari Isnin


Imam Qastallani menulis didalam komentarnya mengenai hadith riwayat Bukhari: "Didalam kitab, Jana'iz (Pengkebumian), Bukhari mengkhususkan satu topik yang membicarakan tentang 'Keutamaan meninggal pada hari Isnin'; didalam topik tersebut tercatat, hadith daripada A'isha yang menceritakan mengenai pertanyaan ayahandanya, Abu Bakr as-siddiq," Pada hari apa Nabi (s.a.w) wafat?" Beliau menjawab," Hari Isnin" Beliau bertanya lagi, "Hari apakah hari ini?" A'ishah pula menjawab,"Wahai ayahanda, hari ini hari Isnin." Lalu beliau pun mengangkat tangan dan berdoa ,"Aku memohon Ya Allah, agar mematikan aku pada hari Isnin sama seperti hari wafatnya Nabi (s.a.w)."

Imam Qastallani menyambung lagi, "Mengapakah Abu Bakr menginginkan agar kematiannya jatuh pada hari Isnin? Supaya hari meninggalnya sama seperti hari kewafatan Rasulullah (s.a.w) agar mendapat barakah pada hari tersebut. Adakah siapa-siapa yang ingin menolak ataupun menghalang keinginan Abu Bakr untuk meninggal pada hari tersebut semata-mata mengharapkan barakah hari tersebut? Kenapa sekarang ramai orang yang menolak keutamaan menyambut atau mengutamakan hari kelahiran Nabi (s.a.w) untuk mendapatkan barakah?"

2-14 Nabi Sentiasa Menekankan dan Mengingati Tempat Kelahiran Para Nabi


Didalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh seorang 'hafiz', al-Haythami didalam kitab Majma' al-zawa'id menceritakan bahawa pada malam Israk dan Mikraj, Nabi (s.a.w) telah diperintahkan oleh Jibril untuk solat 2 rakaat di Baitul Laham (Bethlehem) dan Jibril pun bertanya kepada baginda (s.a.w),"Tahukah kamu dimana kamu telah bersolat sebentar tadi?" Apabila Nabi bertanya kepada Jibril,"dimana?"Jibril pun menjawab,"Kamu telah bersolat ditempat 'Isa dilahirkan."



KESEPULUH: Mengingati hari kelahiran Nabi, merupakan satu 'ibadah yang diterima oleh semua 'ulama diseluruh dunia Islam, samada dulu mahupun sekarang. Ini menunjukkan bahawa Allah redha terhadap perbuatan tersebut. Di dalam kitab Musnad, Imam Ahmad menulis kata-kata Ibnu Mas'ud (yang diterima melalui perantara-perantara yang dipercayai), "Apa-apa yang dianggap benar/haq oleh sebilangan besar umat Islam itulah yang diredhai Allah dan apa-apa yang dianggap batil/salah oleh sebilangan besar umat Islam ianya juga salah/batil disisi Allah."


Sejarah Sambutan Maulidurrasul (s.a.w)

Makkah, merupakan Ibu kepada semua Kota (semoga Allah merahmati dan memuliakannya), merupakan penghulu bagi lain-lain kota diseluruh negara Islam didalam meraikan Maulidurrasul. Al-Azraqi, seorang ahli sejarah Makkah pada abad ke 3 - hijrah, telah menulis didalam kitabnya, Akhbar Makkah (Jilid 2,ms160) tempat-tempat yang digalakkan (mustahabb) untuk menunaikan solat di Makkah antaranya ialah rumah tempat Nabi (s.a.w) dilahirkan (Mawlid al-Nabi). Menurut beliau, rumah tersebut telah dijadikan masjid oleh ibu kepada Khalifah Musa al-Hadi dan Harun ar-Rashid.

Al-Naqqash, seorang 'ulama didalam bidang al-Quran mengatakan bahawa tempat kelahiran Nabi merupakan tempat dimana do'a diterima pada waktu tengahari setiap hari Isnin. Pendapat beliau ini tercatat didalam kitab al-Fasi, Shifa' al-gharam (Jilid 1, ms 199) dan juga kitab-kitab lain.


Keterangan Mengenai Sambutan Maulidurrasul (s.a.w) yang terawal secara Beramai-ramai

Kitab Rihal, karangan Ibnu Jubayr (540-614), didalam bab Perjalanan (ms.114-115) merupakan sumber yang terawal yang menceritakan mengenai sambutan Maulidurrasul (s.a.w) secara beramai-ramai didalam suatu kelompok masyarakat.

"Tempat yang diberkati ini (rumah kelahiran Nabi [s.a.w] ) dibuka dan setiap lelaki dibenarkan untuk memasukinya untuk mendapat barakah daripadanya (mutabarrikin bihi) pada setiap hari Isnin didalam bulan Rabi'al al-Awwal kerana pada hari dan bulan terssebut, Nabi telah dilahirkan."

Ahli sejarah abad ke-7 hijrah, Abul 'Abbas al-'Azafi dan anaknya Abul Qasim al-'Azafi telah menulis didalam kitab (tidak pernah diterbitkan), ad-Durr al-Munazzam, "Mereka yang menunaikan 'ibadah haji dan mereka yang sedang melakukan pengembaraan menyaksikan bahawa tiada jual-beli ataupun sebarang perbuatan lain dilakukan pada hari Maulidurrasul di Makkah, melainkan mereka berpusu-pusu memenuhi tempat kelahiran Nabi yang diberkahi. Pada hari itu juga, Ka'bah dibuka dan orang ramai dibenarkan untuk menziarahinya."


Penulisan Ibnu Battuta Mengenai Maulidurrasul (s.a.w)

Ibnu Battuta merupakan ahli sejarah abad ke - 8 yang masyhur dan beliau telah menulis didalam kitabnya, Rihla (Jilid 1,ms.309 dan 347) bahawa pada setiap hari Jumaat, selepas solat dan pada hari kelahiran Nabi, pintu Ka'bah akan dibuka oleh ketua Banu Shayba, pemegang kunci pintu Ka'bah. Pada hari Maulidurrasul (s.a.w) juga, Qadi yang bermazhab Shafi'i (Ketua Hakim, Makkah), Najmuddin Muhammad Ibnu al-Imam Muhyiddin al-Tabari, membahagi-bahagikan makanan kepada shurafa' (keturunan Nabi [s.a.w]) dan juga kepada kesemua penduduk Makkah.


Tiga Rakaman Sambutan Maulidurrasul (s.a.w) Pada abad ke - 10 Hijrah

Berikut merupakan catatan yang menguatkan lagi cerita-cerita mereka yang melihat sambutan Maulidurrasul (s.a.w). Catatan ini bersumber daripada 3 ahli sejarah abad ke -10 hijrah yang dianggap mempunyai kemahiran dan kepakaran yang tiada tandingannya pada zaman tersebut, Ibnu Huhayra didalam kitabnya al-Jami' al-Latif fi Fasl Makkah wa ahliha (ms.326), al - Hafiz Ibnu Hajar al-Haytami didalam kitabnya al-Mawlid ash-Sharif al-Mu'azzam dan al-Nahrawali didalam kitabnya al-I'lam bi-a'lam Bayt Allah al-Haram (ms.205).

Pada 12hb Rabi'al al-Awwal setiap tahun selepas solat al-Maghrib keempat-empat (wakil keempat-empat mazhab) Qadi kota Makkah dan sekumpulan besar orang yang terdiri daripada para fuqaha' (ulama) dan fudala' (mereka yang utama) kota Makkah, Shaykh-shaykh, pemimpin-pemimpin zawiyah dan murid-murid mereka , para ru'asa' (hakim-hakim) dan para muta'ammamin (ulama) meninggalkan masjid dan pergi secara beramai-ramai untuk menziarahi tempat kelahiran Nabi sambil berdzikir dan membaca tahlil (LA ILAHA ILLALLAH). Rumah-rumah terletak sepanjang jalan tersebut diterangi dengan lampu-lampu dan lilin-lilin besar dan ramai daripada penghuni-penghuni rumah-rumah tersebut memenuhi jalan tersebut. Mereka semua memakai pakaian baru dan membawa anak-anak mereka bersama-sama. Setibanya ditempat kelahiran Nabi (s.a.w) doa khas pun dibacakan dan karamah-karamah yang berlaku semasa kelahiran Nabi (s.a.w) pun dibacakan. Seterusnya doa untuk Sultan, Amir Makkah dibacakan dan Qadi yang bermazhab Shafi'i dibacakan dan kesemua mereka berdoa dengan penuh merendah diri. Sebelum solat al-'Isha, rombongan tadi pun kembali ke Masjidil Haram yang dipenuhi oleh manusia dan mereka mengambil tempat dan membentu saf dikawasan Maqam Ibrahim. Di Masjidil Haram, seorang penyeru akan bertahmid (AL HAMDULILLAH) dan bertahlil dan sekali lagi berdoa untuk Sultan, Amir dan Qadi yang bermazhab Shafi'i. Seterusnya, azan untuk solat 'Isha dilaungkan. Selepas solat al-'Isha, mereka pun bersurai. Peristiwa yang serupa ini juga dirakamkan oleh al-Diyarbakri (meninggal 960) didalam kitabnya Ta'rikh al-Khamis.


Sambutan Maulidurrasul (s.a.w) di Negara-negara Islam Pada Zaman Sekarang

Pada zaman sekarang, kebanyakan orang-orang Islam dinegara-negara Islam meraikan Maulidurrasul (s.a.w). Antara negara-negara tersebut termasuklah: Mesir, Syria, Lebanon, Jordan, Palestine, Iraq, Kuwait, Emiriyah Arab Bersatu, Arab Saudi (tidak secara rasmi - penduduk menyambutnya sendiri dirumah-rumah mereka), Sudan, Yemen, Libya, Tunisia, Algeria, Maghribi, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turkey, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan kebanyakan negara Islam yang lain. Dikebanyakan negara Arab Maulidurrasul (s.a.w) merupakan hari cuti umum. Kesemua negara-negara ini Wahai Ummah, meraikan hari tersebut. Namun begitu kenapa masih lagi ada segelintir dari kalangan kita yang mengatakan ianya haram? Siapakah mereka ini untuk dibandingkan dengan para huffaz (ahli hadith) dan ' Ulama Ummah seperti Abu Shama, 'Asqalani, Suyuti, Sakhawi, Haytami, Shawkani dan al-Qari yang mana mereka semua mengatakan bahawa sambutan Maulidurrasul (s.a.w) merupakan suatu perbuatan yang terpuji?Mengapakah mereka yang menggelarkan diri mereka Salafi ini mengharamkan sesuatu perkara yang mana Ibnu Taimiyyah (antara ulama yang begitu tegas) sendiri, membenarkannya? Ibnu al-Jawzi dan Ibnu Kathir pula menggalakkannya dan masing-masing-masing mereka menulis kitab Maulid yang mengandungi syair dan rangkap-rangkap daripada Sira


8-2 Pendapat Ibnu Taimiyyah Mengenai Majlis Dzikir [Ibnu Taimiyyah's Opinion on the Meetings of Dhikr]

Berikut merupakan pendapat Ibnu Taimiyyah mengenai majlis dzikir. Ianya boleh didapati didalam kitab Majmu 'at fatawa Ibnu Taimiyyah edisi King Khalid ibn 'Abd al-Aziz. Ibnu Taimiyyah telah ditanya mengenai pendapat beliau mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berdzikir, membaca al-Quran berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah kerana riak ataupun menunjuk-nunjuk tetapi hanyalah kerana hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab,"Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Shari'a (mustahabb) untuk berkumpul dan membaca al-Quran dan berdzikir serta berdoa."



8-3 Ibnu Kathir Memuji-muji Malam Maulidurrasul (s.a.w)

Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani telah menulis didalam kitabnya, 'Al-Durar al-Kamina fi 'ayn al-Mi'at al-thamina' bahawa Ibnu Kathir, seorang Muhaddith dan merupakan pengikut Ibnu Taimiyyah, telah menulis sebuah kitab yang bertajuk Mawlid Rasul Allah di penghjung hidupnya dan kitab ini telah tersebar dengan meluas dan keserata tempat. Didalam kitab ini. (disunting dan diterbitkan pada tahun 1961) Ibnu Kathir membenarkan dan menggalakkan sambutan Maulid dan didalam ms 19 beliau telah menulis," Malam kelahiran Nabi (s.a.w) merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi dan malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum Mukmin , malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai."



8-4 Fatwa 'Asqalani dan Suyuti Mengenai Sambutan Maulidurrasul ['Asqalani and Suyuti's Fatwas on the Permissibility of Maulid]

Jalaludin al-Suyuti telah menulis didalam kitab beliau, "Hawi li al-Fatawa", Sheikhul Islam dan Imam Hadith pada zamannya, Ahmad ibn Hajar ('Asqalani) telah ditanya mengenai perbuatan menyambut Maulidurrasul (s.a.w) dan beliau telah memberi jawapan secara bertulis:

Adapun perbuatan menyambut Maulidurrasul (s.a.w.) merupakan bida'ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para Salafussoleh pada 300 tahun pertama selepas hijrah. Walaubagaimanapun, ianya penuh dengan kebaikan dan perkara-perkara yang terpuji dan kadangkala ianya dicacatkan oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya. Jika sambutan Maulidurrasul itu terpelihara dari perkara-perkara yang melanggar shari'a maka ianya tergolong didalam perbuatan bida'ah hasanah tetapi jika sambutan tersebut terselit perkara-perkara yang melanggar shari'ah maka ianya tidak tergolong didalam bida'ah hasanah.

Untuk menjadi dalil bagi sambutan Maulidurrasul (s.a.w), hadith dibawah ini boleh digunakan, ianya merupakan hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim . Semasa Nabi berada di Madinah, beliau mendapati bahawa kaum Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh Muharranm ('Ashura) dan baginda (s.a.w) bertanya akan perbuatan mereka, kata mereka, mereka berpuasa kerana pada hari tersebut, Nabi Musa telah diselamatkan dan Firaun telah ditenggelamkan. Kami berpuasa untuk menyatakan kesyukuran kami. Perkara ini menjadi dalil bagi kita untuk menyatakan kesukuran kita kerana Dia telah merahmati hari tersebut dan menjauhkan bala, seseorang sepatutnya bersyukur akan datangnya hari tersebut pada setiap tahun, bersyur melalui berbagai jenis 'ibadahseperti solat, memberi sedekah, membaca Quran …… JUSTERU ITU RAHMAT APAKAH YANG LEBIH BESAR DARIPADA KELAHIRAN NABI, RASUL YANG MENJADI RAHMAT PADA HARI INI?SUDAH SEPATUTNYA HARI KELAHIRAN BAGINDA DISAMBUT DAN DIBESARKAN APABILA TIBA HARI TERSEBUT, JIKA KITA MENGAMBIL DALIL HADITH YANG TERSEBUT DIATAS. TETAPI ADA JUGA MEREKA YANG MENYAMBUT KELAHIRAN BAGINDA (S.A.W) TANPA MENGIRA BATAS WAKTU PADA MANA-MANA BULAN ATAUPUN ADA YANG MENYAMBUTNYA SEPANJANG TAHUN. ITU TIDAK MENGAPA.



sumber : http://sunnah.org/publication/malay/maulid.htm

wallahualam ... sama2 kita berkongsi pembacaan insyaAllah


24 Jan 2012

Amalan yang membolehkan terselamat dari siksa KUBUR

Kematian adalah ‘hidangan’ buat setiap makhluk yang hidup. Itulah azali penciptaan kehidupan. Apabila matinya seseorang, maka terputuslah hubungan sesorang dengan dunia melainkan anak yang soleh, ilmu yang bermanfaat atau sedekah jariah. Beberapa ketika ini, penulis telah bertemu dengan beberapa kejadian yang amat menginsafkan bagi manusia seperti penulis. Kejadian-kejadian kematian yang amat mengagumkan serta tidak kurang juga yang amat mengguris hati. Sesungguhnya, hanya Allah jua yang mengetahui samada baik atau tidaknya nasib si mati tersebut di alam barzakh sementara menunggu sangkakala yang ditiup oleh Israfil a.s. Seruan kebangkitan ke padang mahsyar.

Terlebih dahulu, marilah kita ketahui sejarah susur galur Surah Al-Mulk (Kerajaan) ini dan sama-sama kita amal dan hafalkan kandungannya semata-mata kerana Allah SWT.
Daripada Abu Hurairah, daripada Rasulullah s.a.w, baginda bersabda: Sesungguhnya ada satu surah dalam al-Quran yang
mengandungi tiga puluh ayat. Ia dapat memberikan syafaat kepada pembacanya sehingga diampunkan untuknya. Itulah surah Tabarakallazi biyadihi al-Mulk.

(Riwayat Imam Ahmad)

Daripada Ibn Abbas r.a katanya: Sebahagian sahabat Rasulullah s.a.w memasang khemahnya di atas sebuah kubur tanpa menyedari tempat itu adalah kubur. Tiba-tiba didapati ia adalahkubur seorang manusia yang sedang membaca surah al-Mulk sehingga habis. Lalu sahabat itu datang kepada Rasulullah s.a.w seraya berkata: Wahai Rasulullah, saya telah memasang khemah di atas sebuah kubur, tanpa menyedari ia adalah kubur. Tiba-tiba (terdengar suara) seorang yang sedang membaca surah al-Mulk iaitu: Tabarak sehingga dikhatamkannya. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Ia (surah tabarak) adalah penghalang, ia adalah penyelamat yang menyelamatkannya daripada azab kubur.

(Riwayat al-Tirmidzi)

Daripada Jabir r.a bahawa Rasulullah s.a.w tidak tidur melainkan setelah baginda membaca alif lam mim tanzil (surah
al-Sajdah) dan surah tabarakallazi biyadihi al-Mulk (surah al-Mulk).

(Riwayat al-Tirmidzi)

Al-Laith melaporkan daripada Tawus yang mengatakan bahawa kedua-dua surah ini melebihi surah-surah lain dalam al-Quran dengan tujuh puluh kebajikan. Al-Tabarani meriwayatkan sebuah hadith bersumber daripada Ibn Abbas, katanya: Maksudnya: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku suka jika ia berada dalam hati setiap orang dari kalangan umatku, yakni surah tabarakallazi biyadihi al-mulk.

(Riwayat al-Tabarani)

Hadith di atas turut diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dalam Musnadnya dengan lebih panjang lebar iaitu: Daripada Ibn Abbas, beliau berkata kepada seorang lelaki: Mahukah aku hadiahkan kamu dengan sebuah hadith yang akan menggembirakan kamu? Lelaki itu menjawab: Bahkan. Katanya: Bacalah surah Tabarakallazi biyadihi al-mulk, dan ajarkanlah kepada keluargamu serta semua anak pinakmu, kanak-kanak di dalam rumahmu, serta jiran tetanggamu. Kerana surah ini adalah penyelamat dan juru bicara yang akan berhujah bagi pihak pembacanya pada hari kiamat di sisi Tuhannya. Ia (surah ini) akan meminta kepada Allah supaya menyelamatkan pembacanya daripada azab neraka, dan menyelamatkannya daripada azab kubur. Rasulullah s.a.w bersabda: Aku suka surah ini berada dalam hati setiap orang dari kalangan umatku.

Seterusnya daripada anas Ibnu Malik berkata: Nabi SAW telah bersabda:”Sesungguhnya seorang lelaki yang sebelum kamu telah meninggal dan tidak ada bersamanya daripada kitab Allah kecuali “tabaarakal-Lazi”. Maka apabila di masukkan ke dalam lubang kubur, datanglah kepadanya malaikat. Maka surah itu telah menahan wajahnya dan malaikat berkata pada surah itu. Sesungguhnya kamu adalah kitab Allah dan saya tidak mahu menyusahkan kamu, sesungguhnya saya tidak boleh memberi kepada kamu dan kepada dia, dan kepada saya kemudharatan atau kemanfaatan.

Sesungguhnya jika kamu hendak memberi manfaat kepada si mati, jadi pergilah menemui Allah SWT. Dan mintaklah syafaat daripadaNya. maka dia (surah al Mulk) pun menemui Allah. “Wahai Tuhanku, si fulan ini(si mati), dia pilih saya dalam kitabmu dan da pelajari saya dan dia membaca saya, bolehkah wahai Allah, Engkau membakarnya dan menyeksanya, walhal saya di dalam dadanya? Maka jika Engkau ingin berbuat demikian,jadi padamlah saya dari kitabmu. Dan Allah berfirman: “Aku nampak kamu marah.” Dia menjawab (surah) : “Sesungguhnya saya marah.” Allah SWT berfirman: “Pergilah sesungguhnya Aku memberi Dia kepada kamu dan kamu menjadi syafaat ke atasnya.”

Nabi SAW bersabda: “Surah itu akan datang kepada malaikat dan memaksanya keluar tanpa melakukan apa-apa kepada si mati. Maka surah itu datang dan meletakkan mulutnya kepada mulut si mati dan mengucapkan selamat datang kepada mulut yang sentiasa membaca saya dan selamat datang kepada dada yang sentiada menghafal dan menjaga saya. Dan selamat datang kepada dua kaki yang sentiasa berdiri dan membaca saya. Maka surah itu bersama si mati dalam kuburnya supaya si mati tidak merasa kesunyian.”

Semoga beroleh manfaat. Amalkanlah surah ini, hafalkan dan sematkan di dalam hati, kerana inilah surah yang banyak membawa hikmat dan keberkatan terutamanya semasa kita di alam barzakh.


Amalan Untuk Selamat Dari Seksaan Kubur.

Dikisahkan bahawa sewaktu Fatimah r.a. meninggal dunia maka jenazahnya telah diusung oleh 4 orang, antara :

1. Ali bin Abi Talib (suami Fatimah r.a)

2. Hasan (anak Fatimah r.a)

3. Husin (anak Fatimah r.a)

4. Abu Dzafrrin Al-Ghifary r.a

Sewaktu jenazah Fatimah r.a diletakkan di tepi kubur maka Abu Dzafrrin Al-Ghifary r.a berkata kepada kubur, "Wahai kubur, tahukah kamu jenazah siapakah yg kami bawakan kepada kamu? Jenazah yg kami bawa ini adalah Siti Fatimah az- Zahra, anak Rasulullah S.A.W." Maka berkata kubur, "Aku bukannya tempat bagi mereka yg berdarjat atau orang yg bernasab, adapun aku adalah tempat amal soleh, orang yg banyak amalnya maka dia akan selamat dariku, tetapi kalau orang itu tidak beramal soleh maka dia tidak akan terlepas dari aku (akan aku layan dia dengan seburuk- buruknya)."

Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari seksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara semuanya :-

1. Hendaklah ia menjaga solatnya

2. Hendaklah dia rajin bersedekah

3. Hendaklah dia rajin membaca al-Quran

4. Hendaklah dia memperbanyakkan membaca tasbih kerana dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya.


Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :

1. Jangan berdusta.

2. Jangan mengkhianat.

3. Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini).

4. Jangan kencing sambil berdiri.

Rasulullah S.A.W bersabda yg bermaksud : "Bersucilah kamu semua dari kencing, kerana sesungguhnya kebanyakan seksa kubur itu berpunca dari kencing." [Hadith Riwayat Muslim]

Seseorang itu tidak dijamin akan terlepas dari segala macam seksaan dalam kubur, walaupun ia seorang alim ulama' atau seorang anak yg bapanya sangat dekat dengan Allah S.W.T

Sebaliknya kubur itu tidak memandang adakah orang itu orang miskin, orang kaya, orang berkedudukan tinggi atau sebagainya, kubur akan melayan seseorang itu mengikut amal soleh yg telah dilakukan sewaktu hidupnya di dunia ini. Jangan sekali-kali kita berfikir bahawa kita akan dapat menjawab setiap soalan yg dikemukakan oleh dua malaikat Mungkar dan Nakir dengan cara kita menghafal.

Pada hari ini kalau kita berkata kepada saudara kita yg jahil takutlah kamu kepada Allah dan takutlah kamu kepada soalan yg akan dikemukakan ke atas kamu oleh Malaikat Mungkar dan Nakir, maka mereka mungkin akan menjawab, "Ah mudah saja, aku boleh menghafal untuk menjawabnya."

Itu adalah kata-kata orang yg tidak berfikiran. Seseorang itu tidak akan dapat menjawab setiap soalan di alam kubur jikalau dia tidak mengamalkannya sebab yg akan menjawab ialah amalnya sendiri.



9 Jan 2012

Subhanallah

Assalamualaikum w.b.t

Berkata Abu Salamah, “Telah berkata Abu Qatadah, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud, sesiapa yang telah melihat daku dalam mimpinya, maka sesungguhnya dia telah melihat yang benar (al-Haqq). Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Muhasabah: Mimpi pelajar UIA berjumpa Nabi Muhammad S.A.W
Luangkan masa kalian untuk membaca.. ambil peringatan dari Baginda Nabi sempena keputeraannya tahun ini.. tunjukkan kecintaan pada Rasulullah s.a.w…
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani. ..
Ya Allah..lancar jari ini menaipkan sebuah pengalaman yang amat berharga dari seorang insan yang dipilih Allah untuk berjumpa Nabi Muhammad s.a.w. melalui mimpi hari Khamis, 16 Rejab 1427H bersamaan 10 0gos 2006.

Yang dipilih oleh ayah beliau adalah Syamimi yg bermaksud ‘kesayanganku’ , jua gelaran Nabi pada puteri kesayangan Baginda, Fatimah. Ketika khilaf memilih Nama itu, ayah beliau mengharapkan mudah-mudahan suatu hari nanti anaknya akan menjadi salah seorang mutiara kesayangan Rasulullah s.a.w. Alhamdulillah, doanya makbul selepas 23 tahun kelahiran anak sulungnya daripada 8 adik-beradik.

Al-Quran 30 juzuk terpelihara kemas dalam hatinya. Beliau menghabiskan masa 3 tahun utk menghafal 30 juzuk Kalamullah ketika berada di negeri kelahirannya. Beliau hafal sendiri untuk memenuhi harapan ibu ayah yang mengharapkan ada dalam kalangan anak mereka menjadi seorang hafiz atau hafizah. Sebagai anak sulung, beliau mengambil tanggungjawab ini untuk menjadi contoh kepada adik-adik yang lain. Setiap hari beliau hafal 2 mukasurat Al-Quran dan tasmi’ dengan ustaz di sebelah rumahnya. Sekarang beliau pelajar tahun 4 jurusan Undang-Undang Syariah di universiti ini.
Akak ni memang diuji dengan sakit yang tak tahu apa punca sejak lebih setahun yang lalu. Sakitnya rasa seperti ditikam-tikam dengan pisau di bahagian belakang tubuhnya, tambahan pula kaki yang sakit di bahagian lutut sejak 8 tahun lalu tidak pernah sembuh. Pernah satu ketika, selepas makan, beliau muntah bersama segumpal rambut dari kerongkongnya.

Penderitaannya hanya Allah dan dia sendiri yang tahu. Sudah lama beliau tidak terdaya ke kelas kerana sakit itu membuatkan dia tidak dapat berdiri atau berjalan. Hilang selera makannya hingga badannya susut hampir 13 kg. Beliau hanya menggagahkan diri untuk pergi berwudhu’ 2 hingga 3 kali sehari. Wudhu’ itu dijaga sebaik mungkin untuk ibadah sepanjang hari.
Hari2 yang dilaluinya dipenuhi dengan membaca Al-Quran dan qiamullail sebagai pendinding daripada gangguan yang berterusan menyakiti diri. Diceritakan makhluk-makhluk halus itu akan mengganggunya terutama pada waktu sebelum Subuh, Zuhur dan Maghrib. Beliau telah banyak berubat di merata tempat, berjumpa doktor pakar, malah ulama’ yg faqih dalam ilmu perubatan islam serta akhir sekali bertemu sorang lecturer di sini. Tapi beliau hanya mampu bertahan. Pesan ustaznya, setiap kali beliau sakit, banyakkan baca Surah Al-Baqarah.




Pagi Khamis itu, beliau berniat untuk hadir kuliyah sebab sudah terlalu lama tidak mampu ke kelas. Beliau bangun kira-kira jam 4.30 pagi untuk solat. Berbekalkan sedikit kekuatan yang digagahkan, beliau ke bilik air untuk berwudhu’ dengan memapah dinding dan segala apa yang mampu membantu beliau untuk berdiri. Habis berwudhu’, beliau jatuh tersungkur, rasa seperti ada yang menolak keras dari belakang. Tika itu beliau sudah tidak mampu berdiri, justeru beliau merangkak ke bilik. Sampai saja di bilik, beliau ketuk pintu dan rebah di depan bilik tersebut. Disebabkan sakit yang mungkin dah tak tertanggung, dengan spontan beliau niatkan, “Ya Allah, kiranya mati itu baik untukku, aku redha, tapi kiranya Engkau ingin aku terus hidup, aku ingin dengar kata-kata semangat daripada Rasulullah s.a.w. sendiri..”

Kemudian beliau pengsan. Sahabat2 sebilik mengangkat beliau ke dalam biliknya dan di baringkan di sana . Waktu itu, sahabat-sahabatnya telah pun ‘forward message’ pada rakan-rakan yang lain agar dibacakan surah Yasin kerana beliau nampak sudah nazak. Malah mereka telah sedia dengan nombor telefon ahli keluarganya untuk dihubungi kiranya ada apa-apa berlaku dengan izin Allah. Kira-kira jam 11 pagi itulah, ketika tertidur dengan tenang dalam waktu qoilullah, beliau bermimpi. Beliau sedang terbaring dalam keadaan memakai telekung dengan tangannya diqiam seperti dalam solat di suatu tempat asing yang sangat cantik. Beliau terbaring di sebelah mimbar dan kelihatan banyak tiang di sekitarnya.

Tiba-tiba datang seorang Hamba Allah dengan wajah yang bercahaya dari arah depan dan berdiri hampir sekali, kira-kira 2 meter dari beliau. Wajahnya SubhanaLlah…Indah sekali, tak dapat nak digambarkan. Beliau tertanya-tanya, siapakah orang ini? Cantik sekali kejadiannya dan hati beliau rasa sangat tenang dengan hanya melihat wajahnya. Dirasakan seluruh kesengsaraan yang ditanggung selama ini lenyap begitu sahaja. Kemudian, Hamba Allah itu mengatakan, Assalamu’alaikum, ana Rasulullah.. ”

Subhanallah..Baginda Nabi rupanya! Nabi memakai jubah putih dan kain serban berwarna hijau di atas bahu baginda. Beliau nampak dengan jelas mata Baginda Nabi, janggut Baginda, rambut Baginda, kain serban di atas bahu Baginda dan tubuh Baginda. Kemudian Nabi katakan “Enti fil masjidi” (kamu sekarang berada di masjidku, Masjid Nabawi).. Allahuakbar!

Kemudian Baginda Nabi s.a.w. berkata: QalAllahuta’ ala;”InnaAllahama’ assobirin” (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar). Ketika mendengar suara Nabi mengalunkan Kalamullah, terasa bergema suara merdu Nabi di seluruh alam. Sememangnya Baginda sebaik-baik kejadian dan diciptakan dengan penuh kesempurnaan. Nabi katakan (dalam lughahl arab, tapi diterjemahkan di sini)

“Ya Syamimi, dengan berkat kesabaran enti, dengan sakit yang enti tanggung selama ini, dan dengan berkat Al-Quran yang enti pelihara di dalam hati, maka Allah bukakan hijab untuk enti nampak ana..”
Ketika Nabi menyebut Ya Syamimi, terlintas di hatinya “Ya Allah..Baginda kenal ummatnya!”. Ya Rasulullah.. . Ketika itu, beliau dapat merasakan baiknya Allah, memberikan nikmat yang begitu besar buat dirinya. Kemudian Nabi katakan lagi; “Sampaikan salamku buat sahabat2 seperjuangan Islam. InsyaAllah, kita semua akan berjumpa nanti..” Nabi s.a.w. kemudian melafazkan; “Ummati.. ummati..ummati. ..” dan beliau nampak jelas Nabi menangis saat itu. Beberapa titisan airmata Baginda yg suci mengalir untuk ummat Baginda! Kemudian Baginda Nabi melangkah pergi.
Beliau merintih, “Jangan pergi Ya Rasulullah.. ” tetapi Baginda tetap pergi. Subhanallah, walaupun kita tak pernah bersua dengan Nabi yg mulia, Baginda kenal dan sentiasa ingat akan ummatnya. Beliau sendiri tidak pasti, apakah Baginda menangis kerana rindu kepada ummatnya, atau mungkin saja baginda sedih dengan ummat akhir zaman ini? wallahua’lam. ..

Sedar daripada tidur yg amat indah pengisiannya itu, beliau masih dikelilingi oleh rakan-rakan yang turut terdengar rintihan beliau dalam tidurnya “Jangan pergi Ya Rasululah… ” Beliau kemudian menceritakan kepada para sahabat tentang mimpinya sekaligus menyampaikan salam Rasulullah buat ummat Baginda. Semua yang mendengar menangis lantaran rindu pada Nabi. Rasa malu pada Nabi kerana kita jarang-jarang ingat pada Baginda sedangkan kita amat terhutang budi padanya. Lebih-lebih lagi kita sedar bahawa hanya syafaat Bagindalah yang dikejar di akhirat kelak.

Ya Allah..ketika itu, tiada kata yang lebih tinggi daripada kalimah Alhamdulillah untuk di rafa’kan pada Allah atas ni’mat yang begitu besar yang Allah berikan pada dirinya. Rasa tak layak dirinya menerima anugerah dengan ujian yang hanya sedikit berbanding insan-insan yang lebih berat diuji oleh Allah. Kiranya ada kalimah pujian yang lebih tinggi dari Hamdalah, pasti akan beliau sebutkan buat Allah Yang Maha Kaya. Semuanya terangkum dalam Rahmat-Nya yang melimpah ruah. Rasa sakit masih menular di tubuhnya. Cuma kali ini dia bertekad tidak akan menangis lagi untuk kesakitan ini.

Usai solat Zuhur, rasa sakit yang ditanggung makin hebat. Tak pernah beliau merasakan sakit yang sebegitu rupa. Terasa panas seluruh badan dan seluruh tubuhnya rasa ditikam pada setiap penjuru. Kalau dulu, beliau akan menangis dalam menghadapi kesakitan, namun pada waktu itu beliau pujuk diri untuk tidak menangis. “Apa sangatlah sakit yang aku tanggung ini berbanding nikmat yang Allah telah bagi untuk melihat Baginda Nabi s.a.w..”

Kemudian beliau tidur. Beliau terus rasakan berada di tempat tinggi, tempat yang biasa hadir sepanjang beliau menerima gangguan. Beliau katakan “Ya Allah, apa lagi yang hendak Engkau berikan buat hambamu yang hina ini, rasa malu sangat dengan-Mu Ya Allah…” Kemudian dengan izin Allah, datang empat orang yang berpakaian serba hijau. Salah seorang daripadanya mengatakan; “Assalamu’alaikum Ya Syamimi..Rasulullah s.a.w. sampaikan Salam buatmu. Kami utusan Rasululah..Nahnu khulafa’ ar-rasyidin. Ana Abu Bakar, ini Ummar Al-Khattab, Uthman bin ‘affan dan Ali..” Subhanallah..Saidina Abu Bakar memperkenal dirinya dan ketiga2 sahabat yang mulia. Beliau nampak sendiri, Saidina Abu Bakar yang amat lembut perwatakannya, Saidina Ummar dengan wajah tegasnya, Saidina Uthman yang cantik sekali dan Saidina ‘Ali yang agak kecil orangnya.



Para Sahabat mengatakan; “Kami diutuskan oleh baginda Nabi untuk membantu enti..” Kemudian keempat-empat mereka membacakan ayat 102 surah Al-Baqarah yg bermaksud:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi syaitan-syaitan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir pada manusia dan apa yang diturunkan pada 2 malaikat di negeri Babylon iaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan ’sesungguhnya kami hanyalah cubaan (bagimu) sebab itu janganlah kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa membeli (menggunakan sihir) itu, nescaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu..”
Selesai membaca ayat itu, para sahabat Nabi menghembus pada makhluk-makhluk yang sedang mengganggu beliau dan mereka semua hancur terbakar.
Subhanallah..Waktu itu terus terasa seolah-olah tubuhnya yang sakit dahulu ditukarkan Allah s.w.t. dengan tubuh yang baru. Hilang segala kesakitan yang setahun lebih ditanggung beliau dengan sabar. Saidina Abu Bakar mengatakan;
“Inilah ganjaran besar dari Allah buat orang-orang yang sabar..”
Kemudian, para sahabat Nabi yg mulia pun pergi meninggalkannya.
Selesai mimpi indah yang kedua ini, beliau bangun dari tidur dan terus duduk. Rakan-rakan sebilik pelik, kenapa beliau dapat bangun dan duduk dengan mudah. Kemudian sahabatnya itu menyuruh beliau bangun berdiri dan Alhamdulillah..Dgn mudah beliau bangun berdiri dan berjalan di sekitar bilik. “Ya Allah, penyakit ana dah sembuh..” Semua sahabat yang ada di situ bergembira dan menangis. Kemudian beliau segera ke bilik air untuk berwudhu’. Dengan tubuh yang ‘baru’, beliau sujud syukur pada Allah s.w.t. “Ya Allah, kiranya diberi tempoh sujud 100 tahun pun belum dapat diriku menjadi hamba-Mu yang bersyukur atas nikmat yang telah Engkau berikan..”
Beliau berpesan pada kami;
“Adik-adik, wajarlah para sahabat Nabi yang mulia sanggup mati demi mempertahankan Baginda. Akak yang diberi rezeki melihat Nabi tak sampai pun 5 minit dah rasa tak sanggup berpisah dengannya. Kalau boleh, nak duduk saja dalam bilik untuk beribadah pada Allah dan mengenang wajah Nabi yang mulia. Tapi menyedari banyak lagi taklifan dan tanggungjawab kita atas muka bumi Allah ini, maka hidup mesti diteruskan. Sekarang ini hati akak tenang sangat..Kalau boleh, nak je akak pinjamkan hati ni walau hanya sesaat agar adik-adik dapat merasakan betapa beningnya hati ini. Tapi itu tak mungkin, kan. Mungkin ini bahagian akak, bahagian kalian? Hanya Pemiliknya Yang Maha Tahu. Akhir sekali akak ingin katakan, tak rugi kita bersabar…”
Keperibadiannya indah. Cerminan Al-Quran katanya ‘Aisyah ra.
Dari semua aspek kehidupan, diperagakannya hanyalah kesyumulan. Allah mengajar manusia berkehidupan di muka bumi ini melalui baginda. Menuruti sunnahnya adalah pahala. Kasih sayangnya tiada bertepi, dari yang kecil hingga yang tua, dari hamba hingga ke bangsawan, dari dulu sampai sekarang, hingga ke akhirnya.. Dialah peribadi unggul sepanjang zaman.'

Mencintainya suatu kemuliaan…
Pernah suatu ketika Rasulullah berkumpul dalam satu majlis bersama para sahabat. Tiba-tiba bergenang air mata baginda s.a.w. Para sahabat gelosah melihat sesuatu yang tidaknmereka senangi di wajah Rasulullah s.a.w. Bila ditanya oleh Saidina Abu Bakar ra, baginda mengatakan bahawa terlalu merindui ikhwannya.. Saidina Abu Bakar sekali lagi bertanya Rasulullah saw, “bukankah kami ini ikhwanmu?” Rasulullah menjawab, “Tidak, kamu semua adalah sahabatku.. ikhwanku adalah umatku yang belum pernah melihat aku tetapi mereka beriman dan sangat mencintaiku. .. Aku sangat rindu bertemu dengan mereka..”

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (al-Ahzab:56)

(kisah ini dinukilkan oleh sahabat Syamimi hasil pengalaman benar yang telah dilalui..pernah disebarkan melalui e-mel & blog sebelum ini..)

Sesungguhnya, ana sangat bersyukur kerana dilahirkan didunia ini sebagai ummat nabi Muhammad S.A.W… Banyakkanlah berselawat dan mendengar zikir.. InsyaAllah kita semua akan mendapat syafaatnya di Akhirat kelak..wallahu’ alam..

Nota: Orang2 yang bijaksana itu mengambil i’tibar, justeru, ambillah pengajaran kisah ini.


 
Copyright @2019 Ayu Balqishah | All Right Reserved
Designed By SF Design Lab | Powered By
Blogger.com